Pilar Sentralitas Paroki
Pilar pertama Friendship. Dalam bahasa manajerial: Local Accountability. Identik substansi dengan [[Prinsip 1 - Basis Paroki|Prinsip Operasional #1 / P-001]].
Prinsip inti
Unit paroki asal anak asuh memegang mandat penuh atas data, pendampingan pastoral, dan akuntabilitas disbursement dana.
Dengan kata lain: meski paroki lain (Paroki Donor) yang membiayai, Paroki Penerima tetap “pemilik” relasi dengan Anak ASAK.

Ringkasan pilar ini dalam slide presentasi ASAK Friendship Okt 2025: Anak ASAK dikelola PAROKI (paroki asal); Penyantun bisa dikelola siapa pun; pengeluaran dana santunan adalah accountability PAROKI pengelola Anak ASAK — lewat Rekening PGDP Paroki.
Konsekuensi praktis
- Data Anak ASAK dikelola di paroki penerima, bukan paroki donor.
- Pendampingan pastoral (pembinaan, kunjungan keluarga, rapor) tetap oleh paroki penerima.
- Disbursement akhir (uang ke sekolah/anak) dari Rek ASAK Paroki Penerima — bukan dari paroki donor langsung.
- Laporan ke DPH Paroki Penerima — dia yang menjawab ke umatnya tentang karyanya.
Apa yang paroki donor boleh & tidak boleh
Hak paroki donor (dari Bab XI Buku Pedoman):
- Berhak mengetahui detail data peserta ASAK.
- Berhak mengadakan survey/wawancara acak ke peserta (boleh tanpa izin khusus — transparansi).
- Berhak ikut proses seleksi calon penerima.
Tapi: paroki donor tidak menjadi pengelola anak. Data, pembinaan, transfer ke sekolah — tetap di paroki penerima.
Kenapa pilar ini penting
- Relasi pastoral tidak rusak. Anak ASAK & keluarganya tetap punya pendamping yang mereka kenal di paroki sendiri.
- Akuntabilitas jelas. Kalau ada masalah, DPH Paroki Penerima yang menanggapi — ada yang bertanggung jawab kontekstual.
- Mencegah “kolonialisasi” paroki kaya terhadap paroki kurang mampu.
- Konsisten dengan sejarah ASAK — lahir di Bojong Indah sebagai gerakan berbasis umat paroki, bukan top-down.
Hubungan dengan pilar lain
- Dengan Pilar Prinsip Ember: karena dana masuk ke kolam paroki penerima dulu, paroki penerima tetap pegang kendali disbursement.
- Dengan Pilar Solidaritas Institusional: risiko keuangan bukan beban anak ASAK, tapi institusi (paroki donor) — tapi akuntabilitas operasional tetap di paroki penerima.