Bu Wiwik — Dominica Wiwik Kriswianti

Dominica Wiwik Kriswianti — dikenal Bu Wiwik — adalah co-founder operasional Gerakan ASAK dan istri Pak Yanto Wibisono. Di [[DIA Hadir 2014|DIA Hadir]] beliau menulis sendiri tentang perannya — bukan sebagai “istri pendiri”, melainkan sebagai tim admin pertama yang merangkai sistem ASAK dari nol di Paroki Sathora 2007.

“Apapun itu, tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil, lebih penting atau tidak penting. Admin adalah suatu bidang yang spesifik, tidak semua orang bisa menjalankannya dengan baik.” — Bu Wiwik, DIA Hadir 2014

Peran historis: tim admin pertama ASAK

Saat Pak Yanto + tim awal 8 orang memulai Ayo Sekolah di Sathora pertengahan 2007, Bu Wiwik mengambil peran yang paling tidak terlihat tapi paling fondasional:

1. Merangkai sistem dari nol.

“Kami merangkai kata demi kata menjadi buku panduan, menyusun kolom demi kolom menjadi formulir, membuat flow chart seadanya karena tidak mampu buat yang lebih bagus.”

Buku panduan, formulir B1/B2, flow chart awal — semua dirancang Bu Wiwik bersama tim. Ini cikal bakal kerangka administratif yang masih dipakai sampai hari ini di Pengajuan Bantuan dan Survey Rumah.

2. Survey rumah generasi pertama.

“Kami juga melakukan survey ke rumah anak santun, cukup shock karena tidak terbayangkan ternyata ada umat paroki yang tempat tinggalnya demikian parah, meraba-raba apa saja yang pantas atau tidak kami tanyakan…”

Bu Wiwik termasuk pengurus pertama yang melakukan Survey Rumahbelajar di lapangan mana pertanyaan yang etis (pekerjaan, penghasilan, kendaraan, biaya-biaya keluarga). Pengalaman pioneer ini yang lalu jadi referensi Lampiran 20 — Panduan Survey di Buku Pedoman ASAK 2018.

3. Mengelola admin lengkap untuk ~145 anak santun pertama Sathora. Sebagai sekretaris, Bu Wiwik mengelola:

  • Mengumpulkan formulir pengajuan + dokumen pendukung
  • Input & arsip data
  • Membuat profil Anak ASAK
  • Surat-menyurat ke anak & penyantun
  • Mengumpulkan rapor
  • Membagikan santunan
  • Memantau uang masuk dari penyantun
  • Membuat laporan keuangan

“Saat itu aku hapal nomor, nama dan kisah anak satu persatu kira-kira sampai sekitar 145 anak santun yang pertama di Sathora.”

4. Input data awal yang menjadi contoh pelatihan paroki lain. Saat sistem komputer ASAK V1 dikembangkan oleh Lukito Wibowo (2009 ke depan), data awal Sathora — yang dikebut oleh Bu Wiwik — dipakai sebagai contoh saat pelatihan paroki-paroki lain. Tanpa data ini, sistem tidak bisa diuji-coba realistis.

Spiritualitas: Senyum Tuhan Cukup Buatku

Tulisan Bu Wiwik di DIA Hadir berjudul “Senyum Tuhan Cukup Buatku” — frase yang menjadi spiritualitasnya. Kutipan kunci:

“Bagianku hanyalah kerja, dan kerja itu aku tujukan untuk Tuhan, apa yang aku inginkan adalah senyumNya ketika melihatku bekerja, pujian dan penghargaan dari orang lain hanya seperti bonus.”

“Ketika aku merasa capek, di sela-sela pekerjaan pribadi tapi masih harus membereskan pekerjaan ASAK… aku bayangkan saja Tuhan sedang tersenyum padaku, privately, karena hanya Dia yang tahu persis apa yang aku kerjakan buat Dia dan apa yang ada di hatiku.”

“Apabila kita melakukan pelayanan yang sesuai dengan pribadi kita, aku yakin kita tidak akan pernah merasa capek dan bosan.”

Spiritualitas ini melengkapi spiritualitas Pak Yanto yang “Tunduk dan Taat”. Pak Yanto = mendengar perutusan; Bu Wiwik = melakukan dalam diam. Keduanya jadi pasangan teladan dalam ASAK Values.

Metafora “tubuh ASAK”

Salah satu kontribusi konseptual Bu Wiwik yang paling menarik — metafora tubuh untuk struktur Tim ASAK:

Bagian tubuhPeran ASAK
OtakKetua
Tulang belakangBidang-bidang
Jantung & paruPenyantun
DarahAdmin (Sekretaris + Bendahara)

“Tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil, lebih penting atau tidak penting.”

Metafora ini sealur dengan ekklesiologi 1 Korintus 12 (“banyak anggota, satu tubuh”) — bukan kebetulan, mengingat akar pelayanan ASAK adalah Gereja. Lihat Tim ASAK Paroki untuk struktur formal saat ini.

Karakter pelayanan yang menjadi teladan

Bu Wiwik menulis sendiri tentang dirinya:

“Jarang tampil ke depan, sedikit bicara, tapi di balik layar dan dalam diam mereka bekerja.”

Empat karakter pelayanan yang bisa diteladani pengurus ASAK — terutama yang di Bidang Administrasi & Data, Bidang IT, Sekretaris, Bendahara (yang sering merasa “kurang dihargai” karena jarang tampil):

1. Tahu peran sendiri. Bu Wiwik secara sadar tidak ikut Pak Yanto keliling presentasi — beliau jujur: “Aku tidak punya energi dan konsistensi sebesar Yanto untuk bertemu banyak orang… tetapi aku punya daya tahan luar biasa ketika berhadapan dengan hal-hal detail seperti urusan sistem dan administrasi.”

2. Kerja untuk Tuhan, bukan pengakuan. Tahun 2014 saat DIA Hadir terbit, Bu Wiwik bertemu anak-anak yang dulu Sathora pertama di Edufair — “aku masih hapal nama dan wajah mereka, tapi kebanyakan dari mereka sudah tidak ingat siapa aku.” Beliau menulis: “Apakah aku kecewa? Jawabnya tidak.”

3. Mau menulis demi orang lain. Awalnya Bu Wiwik menolak menulis di DIA Hadir. Tapi kemudian sadar bahwa “ada satu bagian dalam ASAK yang belum terwakili” — bagian admin. Maka beliau menulis bukan untuk dirinya, tapi untuk semua tim admin di paroki KAJ.

4. Menerima talenta yang berbeda dari pasangan. Bu Wiwik & Pak Yanto tidak berlomba menjadi yang lebih hebat. Mereka saling melengkapi — Pak Yanto sebagai presenter & motivator, Bu Wiwik sebagai sistem-builder. Pelayanan keluarga sebagai pasangan, bukan sebagai dua individu yang kebetulan menikah.

Pasangan founder: Pak Yanto + Bu Wiwik

Di DIA Hadir, Pak Yanto menulis tentang beliau:

“Banyak percakapan dengan istri saya Wiwik Kriswianti baik di kamar, di mobil dan di banyak kesempatan lainnya, sering membuat mata saya basah.”

“Istimewanya adalah bahwa kami berdua tunduk dan taat pada kehendak dan perutusan Tuhan.”

Pak Yanto selalu menyebut “kami berdua” — bukan “saya”. Ini bukan basa-basi suami: Bu Wiwik memang co-founder operasional, bukan pendukung di belakang.

Di sisi lain, Bu Wiwik menulis bahwa dia menerima kesibukan Pak Yanto di ASAK karena memahami panggilannya. Dua putri mereka (Maura & Erin) ikut mendukung. Maura bahkan merancang cover DIA Hadir. Keluarga ini menjadi keluarga ASAK secara utuh, bukan keluarga yang “tertahan” oleh ASAK.

Posisi historis Bu Wiwik saat ini (2025–2026)

Bu Wiwik secara publik menulis (2014) bahwa beliau sudah mundur dari operasional Sathora sejak 2011“sudah tiga tahun aku tidak terlibat lagi operasional di paroki Sathora.” Setelah itu, peran beliau lebih sebagai rujukan & saksi sejarah, sama seperti Pak Yanto.

Banyak praktik administrasi yang dibangun beliau — kerangka B1/B2, flow chart pengajuan, prinsip tim admin — masih jadi tulang punggung ASAK sampai sistem V3 yang menggantikan V2 di 2025. Sistem berganti, filosofi adminnya tetap.

Mengapa cerita Bu Wiwik penting

1. Mengingatkan bahwa admin adalah pelayanan, bukan beban. Banyak pengurus ASAK senang jadi “garis depan” (presenter, ketua), enggan jadi “garis belakang” (sekretaris, bendahara). Bu Wiwik mengingatkan: tanpa admin yang rapi, gerakan ini tidak punya darah.

2. Mengingatkan bahwa pasangan founder bisa beda peran. Bu Wiwik tidak menjadi “shadow Pak Yanto” — beliau menjadi dirinya sendiri dengan talenta yang berbeda. Pengurus ASAK suami-istri di paroki bisa belajar dari pola ini.

3. Mengingatkan tentang dignity Anak ASAK. Cerita “shock” Bu Wiwik saat survey rumah pertama — “tidak terbayangkan ada umat paroki yang tempat tinggalnya demikian parah” — adalah cermin yang menjaga pengurus tidak menjadi mati rasa terhadap kemiskinan. Setiap survey rumah seharusnya tetap punya sedikit shock itu, supaya hati tetap tergerak.

4. Mengingatkan bahwa pelayanan tidak harus dipuji. “Senyum Tuhan cukup buatku” — frase yang bisa dipakai pengurus admin di paroki manapun saat lelah dan merasa kurang dihargai.

Lihat juga