Bonaventura Eddy
Pak Eddy — nama lengkap Bonaventura Eddy Susatyo Hariyono — adalah Ketua Tim ASAK KAJ II (TAK II) sejak 4 Oktober 2025. Penerus generasi kepemimpinan struktural Gerakan ASAK setelah TAK I (2018–2025), beliau membawa pengalaman dari Ketua Pertama ASAK Paroki St. Bonaventura Pulomas (2013).
Catatan editorial: nama lengkap Bonaventura Eddy Susatyo Hariyono hanya muncul di node ini sebagai sumber rujukan. Di seluruh wiki lain disebut secara seragam Pak Eddy atau Bonaventura Eddy dengan wikilink
[[Bonaventura Eddy]]. Di Daftar Ketua xlsx 2026, beliau tertulis sebagai “Eddy Bona” — singkatan paroki (“Eddy dari Bonaventura”).
Latar belakang singkat
| Aspek | Catatan |
|---|---|
| Profesi | Financial Planner (perencana keuangan) |
| Hobi | Menulis — kontributor KATOLIKANA |
| Paroki | St. Bonaventura Pulomas, Dekenat Jakarta Timur |
| Komunitas | Anggota PUKAT KAJ (Profesional & Usahawan Katolik KAJ), sejak 2016 |
| Istri | Bu Henny (Henny Koesoemaharjati) |
Garis besar perjalanan di ASAK
2013 · Februari — Seksi Pendidikan Paroki Pulomas dibentuk Dengan tugas utama membangun Gerakan ASAK di Paroki St. Bonaventura. Pak Eddy menjadi tim inti perekrutan pengurus dan pengenalan program.
2013 · April–Mei — Sosialisasi ke umat Tim ASAK Pulomas keliling Lingkungan-Lingkungan bersama Pastor Paroki. Sosialisasi setiap malam di dua tempat bersamaan.
2013 · Juli — Launching ASAK Pulomas Bertepatan dengan HUT Paroki Pulomas ke-36. Survey dilakukan ke ~115 calon Anak ASAK pertama. Rapat seleksi penentuan akhir digelar maraton dari pagi sampai malam.
2014 (saat DIA Hadir terbit) ASAK Pulomas sudah mengelola 107 anak santun + 97 penyantun, dengan 4 anak di jenjang kuliah. Pak Eddy menulis testimoni “Dukungan Hirarki Gereja” di DIA Hadir 2014 — mengangkat peran Romo Albertus Hendaryono & Romo Steve Winarto sebagai pendamping yang konsisten.
2014–2025 · Pengembangan kepemimpinan Selama satu dekade, Pak Eddy aktif sebagai pengurus ASAK Pulomas + anggota PUKAT KAJ + kontributor tulisan Katolik. Pengalaman lapangan plus jaringan profesional ini yang mengantarnya ke kepemimpinan tingkat KAJ.
2025 · 4 Oktober — Ketua Tim ASAK KAJ II Menggantikan TAK I (yang menjabat sejak Februari 2018). Salah satu tindakan beliau di awal masa jabatan: menulis kata pengantar Buku Pedoman ASAK 2025 (draft Rv250925B YW12) tertanggal 4 Oktober 2025, ditandatangani sebagai “Ketua Tim ASAK KAJ II”.
“Dengan adanya pedoman ini, Gerakan ASAK dapat terus berkembang, dan memperkuat komitmen pelayanan kita semua.” — Bonaventura Eddy, kata pengantar Buku Pedoman 2025
Per kepemimpinan beliau — ASAK KAJ mengelola 6.460 anak SMA & PT + 42 calon imam (per data publik 2025).
Tulisan di DIA Hadir 2014
Testimoni Pak Eddy di DIA Hadir 2014 berjudul “Dukungan Hirarki Gereja” — fokus mengangkat peran Romo pendamping di awal ASAK Pulomas. Beberapa kutipan kunci:
“Pak Yanto yang juga adalah penggagas gerakan ASAK. Di tengah kesibukannya, beliau tetap menyempatkan diri untuk memberikan penjelasan, pengarahan dan berbagi pengalaman.”
“Romo Hendar mendampingi pada setiap rapat, memberi masukan yang sangat bijak dan tidak pernah memaksakan kehendak tapi memperkuat keputusan. Beliau juga hadir full pada rapat penentuan akhir yang digelar mulai pukul 10 pagi hingga pukul 9 malam.”
“‘Buka warung’ istilah yang kami pakai ketika menerima orang tua yang mengambil uang bulanan rutinnya.”
Catatan: istilah “buka warung” untuk pencairan santunan bulanan adalah salah satu istilah lokal Pulomas yang menarik — gambaran relasi non-formal & manusiawi antara pengurus dengan keluarga Anak ASAK.
Karakter pelayanan yang menjadi teladan
1. Mengangkat orang lain, bukan diri sendiri. Tulisan Pak Eddy di DIA Hadir judulnya “Dukungan Hirarki Gereja” — bukan tentang dirinya, tapi tentang Romo & DPH yang mendukung. Mirip karakter Bu Wiwik yang juga “mengangkat orang lain”.
2. Belajar langsung dari pendiri. Sejak 2013, Pak Eddy konsisten “belajar dari Pak Yanto” — pelaksanaan ASAK di paroki lain, sistematika kerja, dasar pemikiran. Ini contoh suksesi yang sehat: tidak instan, melainkan dimulai 12 tahun sebelum jadi Ketua TAK II.
3. Kombinasi pengalaman lapangan + profesi. Pak Eddy adalah Financial Planner — keahlian yang sangat relevan untuk mengelola gerakan ASAK yang mengelola dana umat. Plus pengalaman 12 tahun mengurus paroki = legitimasi lapangan.
4. Menulis untuk komunitas. Lewat KATOLIKANA & PUKAT KAJ, Pak Eddy menjaga komunikasi Katolik Jakarta tetap hidup. Kepemimpinan ASAK bukan satu-satunya pelayanan — bagian dari ekosistem Katolik awam yang lebih luas.
5. Generasi yang menjembatani. Lahir di era ASAK (mulai 2013 di Pulomas) — bukan generasi pendiri 2007. Tapi cukup senior untuk memimpin transisi TAK I → TAK II di 2025. Generasi yang kenal langsung Pak Yanto + Bu Wiwik, tapi juga punya energi untuk era V3 + 2026+.
Mengapa kepemimpinan TAK II penting
Transisi dari TAK I (2018–2025) ke TAK II (2025–) adalah momen strategis ASAK:
- Sistem V3 baru rilis (2024) — implementasi luas perlu kepemimpinan kuat
- Buku Panduan baru sedang ditulis (draft Rv250925B + Kerangka Maret 2026)
- Lintas keuskupan mulai serius (Padang, Lampung) — perlu mentor & koordinator
- Friendship antar-paroki KAJ semakin matang — empat tipologi formal
- Generasi pengurus baru — pengurus 2007–2013 mulai pensiun; Induksi April 2026 adalah salah satu manifestasinya
Pak Eddy mewarisi semuanya — sekaligus punya tanggung jawab membawa ASAK ke era berikutnya.
Posisi di Daftar Ketua ASAK Paroki
Per data 24 Februari 2026:
- Ketua Pertama ASAK Pulomas (2013–) — sekarang Ketua ke-2 Pulomas adalah Nico (Dominic Surya Dharma) sejak 2020
- Pak Eddy di-suksesikan setelah ~7 tahun memimpin Pulomas — pola yang ideal
Lihat juga
- Henny — istri Pak Eddy, partner pelayanan
- Yanto Wibisono — pendiri ASAK; mentor langsung Pak Eddy
- Wiwik Kriswianti — co-founder operasional
- Tim ASAK KAJ — struktur yang sekarang dipimpin Pak Eddy (TAK II)
- Daftar Ketua ASAK Paroki — Pak Eddy sebagai Ketua Pertama Pulomas
- DIA Hadir 2014 — sumber tulisan asli “Dukungan Hirarki Gereja”
- Romo Pendukung ASAK — Romo Hendar & Romo Steve, pendamping Pulomas
- Sejarah ASAK — generasi suksesi TAK I → TAK II