Pendiri ASAK — Justinus Yanto Jayadi Wibisono
Justinus Yanto Jayadi Wibisono — dikenal Pak Yanto — adalah penggagas dan pendiri Gerakan ASAK (Ayo Sekolah Ayo Kuliah). Bersama istrinya Wiwik Kriswianti dan rekan-rekan paroki Santo Thomas Rasul (Sathora) Bojong Indah, beliau memulai program Ayo Sekolah pada 22 Juli 2007, yang kemudian bertumbuh menjadi gerakan KAJ-wide ASAK.
Garis besar perjalanan
1991 · Inspirasi di Misa Kapel RKZ Surabaya Saat itu Pak Yanto berusia 24 tahun, baru setengah tahun lulus kuliah. Selama Misa, hati beliau diusik oleh ide membentuk gerakan orang tua asuh untuk anak yang kesulitan biaya sekolah. Inspirasi ini diyakini berasal dari Tuhan sendiri — bukan ide yang dipikirkan, tapi yang diberikan.
1991 (lanjut) · Friendship & Humanity di Garut Bersama teman-teman sekampusnya yang baru lulus, Pak Yanto langsung mewujudkan inspirasi tersebut: membentuk komunitas Friendship & Humanity (F&H) yang menjadi orang tua asuh beberapa anak kurang mampu di Garut. Komunitas ini masih berjalan sampai sekarang — embrio dari ASAK.
2003–2007 · Pendalaman Alkitab di rumah Pak Yanto & Bu Wiwik menerima pengajaran rutin dari Ibu Cun Wahono lewat Pendalaman Alkitab di rumah mereka selama hampir empat tahun. Dari Ibu Cun-lah frasa “tunduk dan taat” sering didengar — frasa yang kelak menjadi salah satu ASAK Values.
2007 · Ayo Sekolah lahir di Paroki Sathora Bertepatan dengan 200 tahun KAJ dan 25 tahun Paroki Bojong Indah, Pak Yanto & Bu Wiwik mewujudkan inspirasi 1991 di skala paroki — lewat Sub Seksi Pendidikan Sathora. Tahap awal: 60 anak dibantu. Pak Yanto menjabat Ketua Seksi Pendidikan Sathora.
2009 · Ayo Kuliah lahir Saat kunjungan ke seorang Anak Ayo Sekolah kelas 12 yang ingin lanjut kuliah, ide Ayo Kuliah tercetus. Angkatan pertama: 5 anak. Lihat Sejarah ASAK.
2010–2011 · ASAK menyebar ke paroki lain Pak Yanto sering diminta presentasi di paroki-paroki KAJ. Dari MKK Meruya (2010, di bawah bendera GOTA MKK) sampai ke Komisi PSE KAJ dan pertemuan Pastores se-KAJ (14 Februari 2011). “Ayo Sekolah Ayo Kuliah” mulai diadopsi banyak paroki.
Beralih ke peran KAJ Karena beban presentasi keliling makin padat, Pak Yanto mempersiapkan suksesi: meminta Ester Sulisetiowati — salah satu pengurus Ayo Kuliah Sathora — menggantikannya sebagai Ketua Seksi Pendidikan Sathora. Pak Yanto kemudian fokus mengembangkan ASAK di tingkat KAJ.
Spiritualitas: Tunduk dan Taat
Tulisan Pak Yanto di DIA Hadir 2014 Jendela Depan — berjudul “Tunduk dan Taat” — adalah salah satu sumber spiritualitas ASAK paling padat. Beberapa kutipan kunci:
“Tuhan mengusik hati saya sepanjang misa di kapel RKZ Surabaya tahun 1991 dengan ide membentuk gerakan orang tua asuh. Saat itu usia saya dua puluh empat tahun, baru setengah tahun lulus kuliah.”
“Istimewanya adalah bahwa kami berdua tunduk dan taat pada kehendak dan perutusan Tuhan. Kata-kata tunduk dan taat ini sering kami dengar dari ibu Cun Wahono…”
“Tuhan selalu memberikan jalan, tidak pernah ada yang bolong. Seratus persen kami yakin diberi jalan. Kami makin mantap: Dia telah menugaskan, kami hanya menjalankan.”
“Kami tidak pernah bermimpi hanya dengan tunduk dan taat, kami berkesempatan untuk membantu Bapa Uskup KAJ… ribuan anak bisa terus sekolah, bahkan kuliah dan bekerja…”
Beliau menutup tulisannya dengan kutipan Mother Teresa:
“Allah tidak memanggilku untuk menjadi sukses, melainkan Ia memanggilku untuk menjadi taat.”
Frasa “tunduk dan taat” inilah yang lalu menjadi salah satu dari empat ASAK Values resmi. Lihat juga Tiga Fase ASAK — frame yang sealur dengan kesabaran Pak Yanto.
Karakter pelayanan yang menjadi teladan
Dari tulisan Pak Yanto sendiri & kesaksian Ester Sulisetiowati di buku yang sama, beberapa karakter pelayanan beliau menjadi rujukan untuk pengurus ASAK:
1. Langsung mewujudkan inspirasi. Dari pengakuan beliau: “begitu mendapatkan inspirasi yang diyakini berasal dari Tuhan sendiri, langsung segera diwujudkan.” Tidak menunda, tidak menawar — meski usia masih 24 dan baru lulus kuliah.
2. Tunduk pada bimbingan Roh, bukan ego. “Apapun yang kami keluhkan, kegundahan hati… secara langsung ataupun tidak langsung kami komunikasikan kepada Dia, sang inspirator.” Pak Yanto secara konsisten mengembalikan keputusan ke doa.
3. Membangun bersama, bukan sendirian. Sejak awal, gerakan ini tidak pernah disebut “milik Pak Yanto” — selalu “kami berdua” (Pak Yanto + Bu Wiwik) atau “kami bersama teman-teman”. Lihat juga frame “Hanya Memberi, Tak Harap Kembali”.
4. Mempersiapkan suksesi sejak awal. Pak Yanto sengaja menyerahkan posisi Ketua Seksi ke Ester saat dirasakan beban keliling makin padat — supaya gerakan tidak tergantung pada satu orang. Ini benih regenerasi ASAK dan Tim ASAK KAJ.
5. Empati di rumah dulu. Pak Yanto menulis bahwa kedua putrinya Maura dan Erin sangat mendukung kesibukan beliau di ASAK — beliau menjaga kualitas keluarga sambil melayani. Maura bahkan merancang cover buku DIA Hadir.
Co-founders & generasi awal Sathora
Pak Yanto sendiri mencatat dalam tulisannya bahwa ASAK lahir bersama rekan-rekan paroki Sathora. Dua di antaranya sudah berpulang saat DIA Hadir terbit (2014):
- Budy Jacob (alm)
- Lily Andra (alm)
Penerus & rekan kunci yang juga punya tulisan di DIA Hadir:
- Ester Sulisetiowati — penerus Ketua Seksi Pendidikan Sathora; menulis “Kita Telah Menjadi Pelaku”. Beliau juga yang merumuskan slogan flyer asli Ayo Sekolah: “Ketika melihat dan diam, kita baru jadi pendengar… ketika melihat dan berbuat, kita telah menjadi Pelaku.”
- Wiwik Kriswianti — istri Pak Yanto, co-founder operasional ASAK & tim admin pertama Sathora; “kami berdua” di sebagian besar narasi.
Posisi historis Pak Yanto saat ini (2025–2026)
Per Buku Pedoman versi draft 2025 dan materi Induksi 2026, kepemimpinan Tim ASAK KAJ sudah berganti generasi:
- Ketua Tim ASAK KAJ I (TAK I) — dibentuk Februari 2018.
- Ketua Tim ASAK KAJ II (TAK II) per 4 Okt 2025 — Bonaventura Eddy.
Pak Yanto tetap menjadi rujukan spiritual & sejarah gerakan, tidak lagi di posisi struktural operasional. Modulnya tetap diceritakan di induksi pengurus baru — bukan untuk dipuja, tapi untuk menularkan jiwa.
Mengapa cerita pendiri ini penting
1. Mengingatkan akar gerakan. ASAK bukan inisiatif top-down dari KAJ; lahir dari umat awam yang tunduk pada bisikan Roh. Konsisten dengan P-001 Sentralitas Paroki.
2. Mengingatkan tempo gerakan. 1991 → 2007 = 16 tahun antara inspirasi awal dan paroki pertama. Sealur dengan Filosofi Pohon Palma — akar dulu sebelum tinggi.
3. Mengingatkan cara bekerja. Bukan dengan target, KPI, atau corporate planning — tapi dengan tunduk dan taat, mendengar, mempercayai jalan Tuhan. Ini cara bekerja yang masih dipakai pengurus ASAK senior hari ini.
4. Mengingatkan suksesi. Pak Yanto secara sadar mempersiapkan generasi berikut. ASAK saat ini ada di TAK II — bukti gerakan ini bukan kultus pendiri.
Lihat juga
- Bu Wiwik — Dominica Wiwik Kriswianti, co-founder operasional & istri Pak Yanto
- Romo Pendukung ASAK — para imam KAJ, dekenat, dan paroki yang mendampingi ASAK sejak awal
- Sejarah ASAK — timeline penuh
- ASAK Values · Visi dan Misi ASAK — bingkai nilai yang berakar dari teladan Pak Yanto
- Filosofi Pohon Palma · Tiga Fase ASAK — frame yang sealur
- DIA Hadir 2014 — tulisan asli “Tunduk dan Taat”
- Tim ASAK KAJ — kelanjutan struktural ASAK setelah Pak Yanto
- Paguyuban Alumni ASAK — generasi yang dibesarkan oleh gerakan yang Pak Yanto mulai
- Inspirasi Film ASAK — pendamping naratif (film) yang melengkapi inspirasi tokoh